Rabu, 29 Juli 2020

Memaknai Hari Raya Iduladha

Memaknai Hari Raya Iduladha
Arisalyati

        Tak terasa dua hari lagi kita akan merayakan hari raya Iduladha. Perayaan hari besar bagi umat Islam. Iduladha merupakan hari raya kurban. Sejatinya Iduladha mengajarkan ini untuk bisa mengorbankan hal yang kita sayang seperti halnya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Keduanya telah lulus ujian ketaqwaan kepada Allah SWT. Kalaulah dulu Nabi Ibrahim diuji oleh Allah untuk menyembelih putra tersayangnya dan keduanya lulus karena ketaqwaan kepada Allah di atas segala-galanya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengusahakan agar setiap tahunnya bisa berkurban? Bukan berkurban mempertaruhkan nyawa seperti yang diujikan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail, kita cukup berkurban Sapi, Unta atau Kambing. Namun untuk melakukan itu saja terasa amat berat bagi kita. Tak ada uang, banyak kebutuhan lain, dan berbagai alasan yang kita kemukakan. Coba sama-sama kita renungi, akankah kita benar-benar tak bisa? Apakah kita sudah benar-benar mengusahakannya? Bila belum, yuk tahun depan kita benar-benar mengusahakannya. Mari menabung setiap hari agar tahun depan bisa berkurban secara mandiri. Bukan kurban perasaan terus ya.
          Bila kita sudah mengusahakannya tapi ternyata benar-benar tidak bisa atau uangnya masih kurang, kita bisa berkurban secara patungan. Itu menunjukkan kalau kita benar-benar ingin berkurban dan semoga Allah mampukan kita kedepannya. Aamiin
          Hari Raya Iduladha mengajak kita untuk senantiasa berbagi dengan sesama, bukan dengan pakaian mewah, rumah penuh kue dan aneka makanan dan buah-buahan terhidang tapi tetangga kita justru sebaliknya. Iduladha ingin mangajak bagi yang mampu untuk berbagi dengan berkurban, sehingga daging kurban bisa dibagikan kepada semua orang yang membutuhkan. Agar semua orang, setidaknya bisa merasakan makan danging satu kali dalam satu tahun, ini mungkin terdengar hiperbola tapi masih ada orang yang demikian tanpa kita ketahui karena mereka pandai menyimpan duka. Bahkan Allah lebih menyukai hambanya yang memberikan hartanya kepada orang miskin daripada naik haji berkali-kali sementara disekitarnya masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangannya. Untuk itu marilah kita maknai Iduladha ini dengan berbagi antarsesama dan mengusahakan diri agar mampu menjadi orang yang berkurban. Kita bisa, kalau kita berusaha karena Allah bersama kita, yakinlah.
Semangat berkurban, semangat berbagi kebaikan.

Salam literasi
Dari insan yang sedang berusaha untuk bisa berkurban

#WAGFLPSumselMenulis
#FLPSUMSEL
#Lampauibatasmu
#FLPSumselMenulis










Sabtu, 18 Juli 2020

Menangkap Imajnasi Di Tengah Laut


Menangkap Imajnasi Di Tengah Laut
Oleh: Arisalyati
             

        Mendengar kata laut, sering kali yang terbayang adalah rasa asin airnya.  Menurut  National Geographic dan Karleskint dalam Wikipedia (2020:1) laut adalah sebuah perairan asin besar yang dikelilingi secara menyeluruh atau sebagian oleh daratan. Dalam arti yang lebih luas, "laut" adalah sistem perairan samudra berair asin yang saling terhubung di Bumi yang dianggap sebagai satu samudra global atau sebagai beberapa samudra utama. Laut mempengaruhi iklim Bumi dan memiliki peran penting dalam siklus airsiklus karbon, dan siklus nitrogen. Jadi tidaklah salah kalau mendengar kata laut yang terbayang adalah rasa asin airnya.
          Bagi sebagian orang, termasuk saya, laut merupakan tempat menangkap imajinasi menjadi sebuah karya tulis yang sangat indah. Berada di tengah laut mampu menghilangkan rasa lelah, bosan, jenuh, dan semua kepenatan yang ada. Ketika berada di tengah laut menyadarkan diri bahwa kita hanyalah salah satu makhluk kecil yang diciptakan oleh Allah Swt yang setiap waktu bisa saja tenggelam di lautan bila Ia menghendakinya. Maka tak ada yang perlu disombongkan karena sejatinya diri kita pun bukan milik kita.



          Berada di laut selalu menggetarkan jiwa, dengan indahnya pemandangan yang menyejukkan mata. Anginnya mendamaikan gejolak jiwa. Ombaknya mengantarkan kita pada tujuan yang dituju seirama dengan kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian. Bila di pagi hari, pemandangan terbitnya matahari yang sangat memesona dan bila senja tiba Anda akan melihat proses tenggelamnya matahari  dengan semua estetika yang luar biasa. Semua itu berjalan atas kehendakNya.

          Berikut ini merupakan racikan kata yang hadir ketika saya berada di tengah laut.

Pernahkah kau berbisik pada angin di laut lepas
hingga sesak perlahan bebas
menyusup kesejukkan tanpa batas

Ataukah kau membagi resah pada riak ombak yang bergelombang
sampai hadirnya membawa engkau pulang
Tanpa ucapan terima kasih atau selamat tinggal

Kelak bila rindu menerpa cobalah ujarkan pada awan yang membawa hujan
membasmi debu yang berhamburan .

Deburan Ombak di Teluk Kiluan

           Bagi saya rangkaian kata di atas merupakan hasil imajinasi yang indah.  Ini menjadi suatu solusi bagiku dan bisa juga bagi Anda yang sedang tidak punya ide untuk membuat tulisan untuk pergi ke laut, bila tak ada laut bisa juga ke pinggir sungai atau ke danau. Tangkap imajinasi yang tersaji di sana.

#ForumLingkarPena
#FLPSumsel
#LampauiBatasmu