Minggu, 22 Agustus 2021

LIMA CARA MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

 Lima Cara Menjadi Pendengar yang Baik

Oleh: Arisalyati



             Mendengarkan merupakan keterampilan pertama yang dimiliki manusia, sejak di dalam kandungan ia sudah dianugerahi kemampuan untuk bisa mendengarkan. Walaupun demikian, tak banyak orang yang bisa menjadi pendengar yang baik. Semakin dewasa, justru membuat orang tidak mau mendengarkan. Merasa sudah tahu, sudah dewasa, dan berbagai alasan lainnya. Padahal seharusnya semakin dewasa seseorang maka semakin baiklah ia dalam mendengarkan. Bukankah kita dianugerahi Allah SWT dua telinga dan satu mulut yang berarti banyaklah mendengarkan daripada berbicara.

         Sering kali ketika berkumpul dengan teman-teman, semua sibuk ingin menceritakan tentang kehidupannya,  memotong pembicaraan seseorang dan mengalihkan ceritanya kepada dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa ada rasa ingin menjadi pusat tanpa mau mendengarkan. Dalam hubungan sosial hal ini sangatlah tidak sopan. Bukankah Rosulullah Saw mengajarkan kita untuk menghargai siapa pun yang sedang berbicara kepada kita, lalu mengapa kita tidak menteladaninya. Bukankah kita ingin dihargai dan didengarkan, maka mulailah dengan membiasanya mendengarkan siapa pun yang berbicara kepada kita selagi itu tak bertntangan dengan Al-Quran dan Hadits.

                Berikut lima cara menjadi pendengar yang baik berdasarkan pengalaman mendengarkan selama ini.

1.    Tatap Lawan Bicara

Di saat ada yang sedang berbicara kepada Anda, maka sebaiknya tatap lawan bicara Anda atau arahkan tubuh Anda menghadap kepadanya. Hal ini akan membuat lawan bicara merasa didengarkan dan akan antusias dalam bercerita. Anda pun bisa memahami inti dari lawan bicara Anda.

 

2.    Jangan Menggunakan Handphone

                Letakkanlah handphone Anda ketika sedang mendengarkan orang berbicara, sehingga Anda dapat fokus dalam menerima apa yang disampaikan kepada Anda. Sikap ini juga menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang sangat menghargai lawan bicara Anda. Kalau pun ada telp atau pesan, sebaiknya Anda izin terlebih dahulu agar tak menyinggung lawan bicara Anda.

3.    Jangan Memotong Pembicaraan

Hal yang sangat sering dilakukan adalah memotong pembicaraan. Bila Anda ingin menjadi pendegar yang baik dan disuka lawan bicara Anda maka jangan potong pembicaraannya. Biarkan lawan bicara Anda menyelesaikan semua yang ingin disampaiakan. Dengan demikian komunikasi yang terjalin berjalan dengan baik.

 

4.    Berikan Respons

Setelah lawan bicara Anda menyampaikan semuanya, berikan respons yang sewajarnya. Bila Anda mampu memberikan solusi atas apa yang sedang dihadapinya maka utarakanlah. Namun bila Anda tak bisa memberikan solusi Anda bisa menghiburnya. Kadang kala, tak semua orang yang bercerita membutuhkan pendapat, ia hanya butuh untuk didengarkan agar bebannya berkurang.

 

5.    Jaga Rahasianya

Jika  Anda sudah diberi kepercayaan oleh seseorang untuk diceritakan mengenai kehidupanya, sudah seharunyalah Anda dapat menjadi orang yang dipercaya agar bisaa menjaga rahasianya. Jangan sampai Anda menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada Anda. Ada hal-hal yang seharusnya Anda tahu, mana yang boleh Anda ceritakan kepada orang lain dan mana yang tidak. Hal ini akan membuat hubungan sosial akan terjalin dengan baik dan tidak menambah masalah baru dengan kesalahan atas tindakan Anda.

 

Itulah lima cara menurut saya supaya bisa menjadi pendengar yang baik. Semoga kita bisa menjadi pendengar sejati yang bisa menghargai dan bisa dipercaya serta memberikan solusii.

 

Palembang, 22 Agustus 2021

 

               

               

               

 

 

               

Rabu, 18 Agustus 2021

Keluarga: Mengerti Tanpa Bicara, Memberi Tanpa Diminta

 

Oleh: Arisalyati



                 Berbicara mengenai keluarga, selalu membuatku kehabisan kata untuk mengungkapkannya. Mungkin tak hanya aku, tapi juga kamu. Keluarga adalah orang yang paling tahu tentang kita, bahkan melebihi diri kita sendiri. Merekalah orang-orang yang akan selalu ada bersama kita dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun itu. Meskipun akan selalu ada perdebatan, marah-marahan, saling diam, atau sampai adu kekuatan, tetap saja keluarga tempat berpulang ternyaman.

                Bila membahas mengenai keluarga, kebanyakan terbayang akan sosok wanita yang penuh kelembutan. Sosok yang menyayangi tanpa pamrih, menerima tanpa tapi, memberi tanpa diminta, motivator paling canggih dan pondasi utama keluarga. Bila tiada, rumah terasa hampa bak raga kehilangan jiwanya. Walau kerap kali hadirnya ia membuat semua siaga, siap sedia mengerjakan apa yang diminta. Ya ialah ibu, muara terciptanya rumahku surgaku. Dibalik kelembutannya, ada ketegasan atas apa-apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Dibalik senyuman ada doa-doa lirih yang selalu dipanjatkan yang menjadi sebab tergapainya impian. Dibalik tangisan ada kekuatan yang mampu mengorbankan semuanya demi keluarga. Maka sangat wajarlah bila surga ada ditelapak kakinya.

                Sosok yang tak kalah penting dari ibu adalah Bapak, seseorang yang kerap kali berada dibalik layar. Menanyakan keadaan anak-anaknya pada istri tercinta. Mengawasi dalam diam, menjaga dari jauh, pejuang paling tangguh, dan tak pernah mengeluh. Kerap kali ia mengerti akan keinginan buah hati walau tanpa cakap sebab ialah pengamat paing cermat. Meskipun tak semua orang tua seperti itu, tapi itulah yang aku rasakan untuk kedua orang terpenting dalam hidupku. Ya, aku sangat bersyukur karena Allah takdirnya menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga yang tak romantis namun peduli abis.

                Teruntuk kamu yang ditakdirkan dalam keluarga yang tak harmonis, kuharap nanti engkau akan menjadi pondasi terciptanya keluarga-keluarga yang kokoh dalam ikatan yang suci. Tanpa membawa dendam masa lalu. Yakinlah, setiap orang tua pasti menyayangi anak-anaknya meski dengan cara yang berbeda. Kadang kala ada suatu kodisi yang tak bisa dimengerti oleh akal namun bisa dirasa oleh hati. Jadi, seperti apa pun kita bertumbuh semoga kelak kita bisa mencipta keluarga yang utuh. Menjadi sosok yang mengerti tanpa bicara dan memberi tanpa diminta. Hingga akan selalu ada surga dalam setiap rumah.

 

Palembang, 18 Agustus 2021

               

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 31 Juli 2021

Sadari Gejala Corona Sedari Dini

Oleh: Arisalyati

Berbicara mengenai virus Corona yang semakin marak khususnya di Indonesia, memberikan berbagai dampak bagi banyak orang. Setiap hari, bahkan setiap waktu ada orang yang meninggal disebabkan Covid-19. Oleh sebab itu, ayo  kenali gejala awal virus Corona.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC)  mengemukakan ciri-ciri tubuh bila terkena virus Covit-19.
1. Demam atau kedinginan
2. Batuk kering 
3. Sesak napas atau kesulitan bernapas
4. Kelelahan 
5. Nyeri otot atau tubuh 
6. Sakit kepala 
7. Kehilangan rasa atau bau (anosmia)
 Sakit tenggorokan 
8. Hidung tersumbat atau pilek 
9. Mual atau muntah 
10.Diare 

Berdasarkan pengalaman seseorang yang pernah terkena virus Corona, hal yang harus diwaspadai adalah panas tinggi yang tak seperti demam pada umumnya. Beruntungnya saat itu ada Kakaknya yang sigap menanganinya sehingga virus Corona itu tidak menyebar kepada keluarga yang lainnya.
Setelah demam tinggi maka akan batuk kering dan sedikit sesak.
Jadi, apabila Anda atau keluarga Anda ada yang demam tinggi, maka segeralah siaga dan cek ke dokter dengan melalukan swab. Kebanyakan orang di Indonesia tidak mau dikatakan korban covid-19 sehingga tidak mau melakukan swab. Padahal apabila diketahui sedari awal, insya Allah Virus Corona itu bisa disembuhkan.

Pada dasarnya, virus Corona itu akan menyerang diri apabila imun sedang menurun dan kondisi tubuh sedang lelah.  Demi menjaga agar tak terkena virus Corona, di mana pun dan kapan pun kita tetap melakukan protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan, olahraga dan istirahat yang cukup serta perbanyak makan buah dan sayur.

Semoga dengan semua usaha yang dilakukan, kita tidak terserang virus Corona. Ingatlah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

#WAGFLPSumsel
#FLPSumselMenulis
#FLPPalembang
#MenulisuntukMencerahkan


Senin, 31 Mei 2021

Menulis Cara Terbaik Mengenang dan Melupakan

 

Oleh: Arisalyati




                Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri. Adakalanya kita butuh ruang untuk mengungkapkan isi hati yang terpendam agar terluapkan dan tak menjadi beban. Beberapa ada yang mengungkapkannya secara gamblang melalui postingan di sosial media masing-masing. Ada yang mengungkapkan secara tersirat bak hanya dirinya dan Tuhan yang mengerti isyarat.

                Bagiku, menulis adalah cara terbaik untuk mengenang seseorang pun melupakan. Dua hal yang tentunya bertentangan namun bisa menyatu dalam tuisan. Bila aku ingin mengenang seseorang aku akan menuangkan kisahnya dalam bentuk tulisan, mengabadikan kisahnya sedemikian rupa agar kelak bisa dibaca dan tak terlupakan. Anehnya, bila aku tak bisa melupakan seseorang aku pun menuangkannya dalam tulisan hingga aku perlahan melupakan seusai tulisan itu tertuang. Rasanya lega, bila semuanya sudah tertuangkan dalam tulisan dan beban di dalam diri pun berkurang. Hal ini mungkin karena aku bukanlah tipe orang yang suka menceritakan permasalahanku kepada orang lain. Sehingga apa-apa mesti dituliskan.

                Dulu, sejak SMP aku suka sekali menuliskan kisahku dalam buku diary, mulai kisahku sedari kecil sampai dengan saat itu. Rasanya begitu menyenangkan bila sudah menuliskannya. Namun kini menulis tak segampang dulu, harus ada tujuan dan manfaat akan apa yang dituliskan sebab apa-apa yang dituliskan akan diminta pertanggungjawabannya di yaumil akhir nanti. Bila kita ingin dikenang dengan baik, maka tulisan kita haruslah memberikan manfaat dan mencerahkan. Jangan sampai nanti, tulisan kita justru menjadi tumpukan dosa bukan tumpukan pahala. Rasanya sangatlah rugi bila kita susah-susah menulis tetapi justru menjadi pemberat amalan keburukkan. Bukannya menambah pahala malah sebaliknya, untuk itulah aku bergabung dengan  FLP (Forum Lingkar Pena) yang slogannya itu “Menulis untuk Mencerahkan” sehingga aku bisa belajar cara menuis yang baik dan mencerahkan. Dalam WAG FLP Sumsel Menulis, para pembina selalu mengingatkan kami untuk menulis hal-hal yang bermanfaat bukan tulisan curhat apalagi vulgar yang saat ini sedang marak-maraknya terjadi. Aku yakin bila tulisan kita baik maka kita akan dikenang dengan kebaikkan dan sebaiknya. Sekarang semua ada di dalam diri kita, ingin dikenang dengan cara yang bagaimana.

 

Selamat menulis dariku yang masih belajar menulis

Palembang, 31 Mei 2021

#WAGFLPSumselMenulis

#lampauibatasmu

#menulisuntukmencerahkan

Rabu, 23 Desember 2020

Ibu; Pelita Hidupku

Oleh: Arisalyati



Berbicara mengenai ibu, selalu saja membuatku tak mampu. Terlalu banyak hal yang membuatku mengharu biru, mungkin karena aku belum mampu sepenuhnya melepaskan rindu yang selalu menggebu setiap waktu. Ibu adalah sosok terhebat bagiku, mungkin bukan hanya aku, tapi bagisemua anak yang ada di dunia ini. Walau tanpa kata ataupun ucapan cinta.

            Bila membahas mengenai ibu, terbayang senyumnya yang selalu memberikan semangat dalam setiap langkahku. Ibu adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi melahirkanku. Kendatipun ia tau, nyawanya menjadi taruhan bila tetap mempertahankanku, tapi ia tetap lakukan itu. Penyakit jantung yang sedari lahir ia miliki, obat-obatan yang menjadi santapannya setiap hari, tak membuatnya menyerah. Ialah wanita super itu.

            Ibu, sosok yang selalu penuh semangat, gigih, dan ingin serba cepat. Ia memiliki perencanaan yang akurat, hingga mampu mengelola keuangan dengan tepat. Berkat ibu dan bapak,  aku bisa menempuh pendidikan hingga strata-2. Tak terbayang apa jadinya aku, bila bukan terlahir darinya, mungkin aku tak akan merasakan itu. Sedari kecil, aku didik untuk mandiri, mengaji, dan membantu orang tuaku berdagang. Ibu menyiapkan aku, agar aku bisa mandiri ketika mulai merantau, karena ia sudah merencanakan aku untuk bersekolah di Palembang. Ah, ibu betapa luar biasanya dirimu. Engkau ajarkan aku memasak sedari SD, seingatku saat itu aku barulah kelas 4. Engkau ajarkan aku semua yang sangat aku perlukan di tanah rantau dan jauh darimu.

            Mengingat ibu, selalu mengingatkanku akan perjuangan, keceriaan, nasihat, pelukkan, dan banyak hal lainnya yang mengenang hingga kini. Terima kasih Bu, walau sudah tujuh tahun engkau meninggalkan kami karena kenangan indahmu, kami bisa hidup dengan baik. Semua hal yang ibu persiapkan untuk kami, membuat hidup kami lebih baik. Maafkan aku yang tak mempercayai kata-katamu saat engkau bilang “Waktumu takkan lama lagi”. Andai saja waktu bisa diulang, aku ingin mempercayainya walau saat itu aku belum siap, sehingga aku takkan akan meninggalkanmu meski ada pekerjaan yang mendesak.

Bu, engkau pelita itu yang selalu membuat rumah menjadi tempat ternyaman, membuat diri ini selalu ingin pulang padahal libur sekolahnya cuma beberapa hari. Ah, ibu, engkau bahkan telah memberitahuku apa yang akan terjadi setelah kepergianmu. Kini semua menjadi nyata. Berkat kata-katamu waktu itu, aku siap menghadapi semuanya. Terima kasih Bu, atas semua cinta, nasihat, dan perjuangamu. Semoga kelak, aku bisa sepertimu. Love you

Maafkan, bila tulisan ini terkesan seperti curhatan, sungguh tak bermaksud. Saat ini pun aku menulisnya dengan berurai air mata. Selamat hari ibu, untuk semua ibu yang luar biasa.

 

Palembang, 23 Desember 2020

#WAGFLPSUMSELMENULIS

#Lampauibatasmu #FLP #FLPSumsel

#HariIbu

 

Selasa, 10 November 2020

PENGALAMAN MASA KECIL YANG PALING BERKESAN

 Arisalyati dalam Bingkai Agra

            


            Masa yang paling membahagiakan adalah masa kecil. Bagiku yang terlahir di sebuah desa terpencil. Masa kecil merupakan masa yang paling berkesan. Dibesarkan di keluarga yang sederhana di sebuah desa yang masih asri serta kekeluargaan yang masih sangat kental. Membuat masa kecilku menjadi lebih istimewah. Bila ditanya, kenangan yang paling berkesan di masa itu, maka aku akan bingung mengungkapkannya. Bukan karena tak ada yang berkesan namun sebaliknya, semua berkesan dan tak terlupakan. Masa kecilku penuh diisi dengan bermain. Mulai dengan bermain kelereng, karet, cam-cam buku, kiuk-kiukan, berenang, main baju-bajuan, nangguk (salah satu cara menangkap ikan), rumah-rumahan dan masih banyak lagi.

            Bila harus dipilih hal yang paling berkesan, maka yang sangat mengharukan adalah perlakuan Bak dan Umak kepadaku. Kala itu, aku masih SD. Di saat pulang sekolah hujan turun dengan lebatnya. Teman-temanku sudah mulai berjalan di tengah hujan, aku masih meragu, sebab besoknya bukanlah hari libur, kalau kehujanan otomatis baju akan basah kuyup. Di tengah keraguan, Bapakku datang dengan payung besar. Teman-temanku bilang kalau Bapakku sudah datang menjemput sementara teman-temanku yang lain tidak ada djemput. Memang sebenarnya kami biasa pulang sendiri, tapi karena hujan Bapakku datang. Ah, aku terharu dan merasa spesial. Akhirnya kami pulang bersama dengan payung lebar di bawah rintik hujan. Setelah sampai di rumah, aroma masakan Umak menggoda selera. Semua sudah terhidang di atas tikar di Buri rumah kami. Bagiku itu adalah hal yang paling mengharukan dan tak terlupa hingga kini. Mungkin bagi kebanyakkan orang ini hal yang biasa, tapi bagiku itu istimewah. Karena sejak SMP aku sudah mulai merantau ke kota demi melanjutkan pendidikan. Kala itu, di desaku, sekolah yang ada baru jenjang Sekolah Dasar. Kenangan kebersamaan seperti itu amatlah kurindu. Hal itu tak mungkin lagi terulang sebab matahariku, sudah kembali ke sisiNya. Semoga kelak kami bisa berkumpul di surgaNya. Aamiin.

            Hal lain yang paling berkesan adalah ketika aku berhasil menangkap ikan di “Kambang” yang berada fi kebuh Guhung. Waktu itu, aku, Lisni, dan Don ikut Bak dan Umak “Kume” di Guhung. Di sana, ada aliran sungai yang berada di tengah Ume, Di antara padi yang mulai meninggi. Setelah sampai, Aku, Lis, dan Don langsung menuju ke aliran sungai. Airnya jernih sehingga ikan-ikan kecil itu terlihat. Aku  yang memang suka air langsung nyebur ke kambang yang berada di tengah aliran air. Niat hati hanya mau main air, entah mengapa menjadi kegiatan menangkap ikan. Bermodalkan ember kecil yang dimasukkan ke dalam kambar, aku berhasil menangkap ikan-ikan besar, seperti behingit (anak baung), sepat, dan huwan (ikan gabus). Hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan. Sebenarnya masih banyak lagi kegiatan masa kecil yang menyenangkan pun mengesankan. Lain kali kita sambung lagi dengan kisah yang tak kalah menyenangkan.

 

Sampai jumpa di cerita masa kecil selanjutnya.

#WAGFLPSUMSEL

#FLPSUMSELMENULIS

#LAMPAUIBATASMU

 

 

Sabtu, 10 Oktober 2020

KUPEROLEH ENGKAU LEWAT PUISI

Oleh: Arisalyati

                 Pernahkah kalian mendapatkan sebuah buku yang telah lama kalian inginkan, tapi karena ada keperluan yang lebih penting akhirnya tidak jadi membelinya? kalau pernah berarti kita sama.

Dulu di awal tahun 2014, ada sebuah buku yang ingin aku beli, namun buku itu terbilang mahal untuk kantong mahasiswi yang lebihlah pasak dari pada tiang. Akhirnya buku itu tak jadi dibeli. Bertahun-tahun berlalu, buku tersebut terlupakan meskipun isi bukunya sering terbaca di media sosial. Hingga di peringatan hari puisi, tepatnya pada tanggal 28 April 2020 aku mengikuti lomba puisi yang diadakan Poetryprairie, tiga puisi terpilih akan mendapatka sebuah buku puisi. Salah satu buku yang akan menjadi hadiahnya ialah buku yang selama ini aku inginkan. Buku tersebut berjudul “Hujan Bulan Juni” karya Sapardii Djoko Damono.

Awal ikut lomba tersebut, sama sekali tidak berharap terpilih karena sadar akan kemampuan diri yang masih sangatlah rendah dalam bidang tulis menulis, termasuk puisi. Namun rupanya Allah mengizinkan puisiku menjadi puisi yang terpilih. Tadinya aku tak menyangka akan mendapatkan buku “Hujan Bulan Juni” sebab namaku berada pada urutan ketiga. Sepertinya aku memang sedang beruntung karena di saat membuka paket kiriman, buku yang selama ini aku inginkan akhirnya berlabuh di tangan. Alhamdulillah, rasanya senang sekali, sesuatu yang selama ini dinginkan dapat terwujud.

Membaca buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul “Hujan Bulan Juni” memanglah sangat mengasyikkan. Bahasa yang digunakan sangat sederhana namun penuh makna, kesahajaan sosok pengarang tertuang dalam bait-bait puisinya. Ada 102 sepilihan sajak yang tertuang di dalam buku itu. Beberapa di antaranya diberi judul dengan satu kata, seperti kata suara, lanskap, ziarah, jarak, akuarium, batu, maut, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahasa yang digunakan juga tidak membuat kepala kita menjadi pusing karena memikirkan arti katanya, semua kesederhanaan kata-kata yang terkandung membuat kita larut dalam cerita yang ada di setiap puisi Eyang Sapardi.


        Membaca buku ini menyadarkan aku untuk menuliskan peristiwa atau kejadian yang sederhana ke dalam bentuk puisi yang penuh makna. Tentu hal itu tidaklah mudah, butuh proses panjang agar bisa menyatukannya.  Buku ini akan menjadi panduan caraku dalam berproses membuat sebuah puisi. Semoga kelak bisa mengikuti jejak Eyang Sapardi malalui puisinya. Bagi kalian yang ingin belajar menulis puisi aku sarankan untuk membeli buku “Hujan Bulan Juni Sepilihan Sajak”.  

 

Palembang, 10 Oktober 2020


#bukupalingberkesan

#WAGFLPSumselMenulis

#Lampauibatasmu