Rabu, 23 Desember 2020

Ibu; Pelita Hidupku

Oleh: Arisalyati



Berbicara mengenai ibu, selalu saja membuatku tak mampu. Terlalu banyak hal yang membuatku mengharu biru, mungkin karena aku belum mampu sepenuhnya melepaskan rindu yang selalu menggebu setiap waktu. Ibu adalah sosok terhebat bagiku, mungkin bukan hanya aku, tapi bagisemua anak yang ada di dunia ini. Walau tanpa kata ataupun ucapan cinta.

            Bila membahas mengenai ibu, terbayang senyumnya yang selalu memberikan semangat dalam setiap langkahku. Ibu adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi melahirkanku. Kendatipun ia tau, nyawanya menjadi taruhan bila tetap mempertahankanku, tapi ia tetap lakukan itu. Penyakit jantung yang sedari lahir ia miliki, obat-obatan yang menjadi santapannya setiap hari, tak membuatnya menyerah. Ialah wanita super itu.

            Ibu, sosok yang selalu penuh semangat, gigih, dan ingin serba cepat. Ia memiliki perencanaan yang akurat, hingga mampu mengelola keuangan dengan tepat. Berkat ibu dan bapak,  aku bisa menempuh pendidikan hingga strata-2. Tak terbayang apa jadinya aku, bila bukan terlahir darinya, mungkin aku tak akan merasakan itu. Sedari kecil, aku didik untuk mandiri, mengaji, dan membantu orang tuaku berdagang. Ibu menyiapkan aku, agar aku bisa mandiri ketika mulai merantau, karena ia sudah merencanakan aku untuk bersekolah di Palembang. Ah, ibu betapa luar biasanya dirimu. Engkau ajarkan aku memasak sedari SD, seingatku saat itu aku barulah kelas 4. Engkau ajarkan aku semua yang sangat aku perlukan di tanah rantau dan jauh darimu.

            Mengingat ibu, selalu mengingatkanku akan perjuangan, keceriaan, nasihat, pelukkan, dan banyak hal lainnya yang mengenang hingga kini. Terima kasih Bu, walau sudah tujuh tahun engkau meninggalkan kami karena kenangan indahmu, kami bisa hidup dengan baik. Semua hal yang ibu persiapkan untuk kami, membuat hidup kami lebih baik. Maafkan aku yang tak mempercayai kata-katamu saat engkau bilang “Waktumu takkan lama lagi”. Andai saja waktu bisa diulang, aku ingin mempercayainya walau saat itu aku belum siap, sehingga aku takkan akan meninggalkanmu meski ada pekerjaan yang mendesak.

Bu, engkau pelita itu yang selalu membuat rumah menjadi tempat ternyaman, membuat diri ini selalu ingin pulang padahal libur sekolahnya cuma beberapa hari. Ah, ibu, engkau bahkan telah memberitahuku apa yang akan terjadi setelah kepergianmu. Kini semua menjadi nyata. Berkat kata-katamu waktu itu, aku siap menghadapi semuanya. Terima kasih Bu, atas semua cinta, nasihat, dan perjuangamu. Semoga kelak, aku bisa sepertimu. Love you

Maafkan, bila tulisan ini terkesan seperti curhatan, sungguh tak bermaksud. Saat ini pun aku menulisnya dengan berurai air mata. Selamat hari ibu, untuk semua ibu yang luar biasa.

 

Palembang, 23 Desember 2020

#WAGFLPSUMSELMENULIS

#Lampauibatasmu #FLP #FLPSumsel

#HariIbu