Oleh: Arisalyati
Bila membahas mengenai ibu,
terbayang senyumnya yang selalu memberikan semangat dalam setiap langkahku. Ibu
adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi melahirkanku. Kendatipun ia
tau, nyawanya menjadi taruhan bila tetap mempertahankanku, tapi ia tetap lakukan
itu. Penyakit jantung yang sedari lahir ia miliki, obat-obatan yang menjadi
santapannya setiap hari, tak membuatnya menyerah. Ialah wanita super itu.
Ibu, sosok yang selalu penuh
semangat, gigih, dan ingin serba cepat. Ia memiliki perencanaan yang akurat,
hingga mampu mengelola keuangan dengan tepat. Berkat ibu dan bapak, aku bisa menempuh pendidikan hingga strata-2.
Tak terbayang apa jadinya aku, bila bukan terlahir darinya, mungkin aku tak
akan merasakan itu. Sedari kecil, aku didik untuk mandiri, mengaji, dan
membantu orang tuaku berdagang. Ibu menyiapkan aku, agar aku bisa mandiri
ketika mulai merantau, karena ia sudah merencanakan aku untuk bersekolah di
Palembang. Ah, ibu betapa luar biasanya dirimu. Engkau ajarkan aku memasak
sedari SD, seingatku saat itu aku barulah kelas 4. Engkau ajarkan aku semua
yang sangat aku perlukan di tanah rantau dan jauh darimu.
Mengingat ibu, selalu mengingatkanku
akan perjuangan, keceriaan, nasihat, pelukkan, dan banyak hal lainnya yang
mengenang hingga kini. Terima kasih Bu, walau sudah tujuh tahun engkau
meninggalkan kami karena kenangan indahmu, kami bisa hidup dengan baik. Semua
hal yang ibu persiapkan untuk kami, membuat hidup kami lebih baik. Maafkan aku
yang tak mempercayai kata-katamu saat engkau bilang “Waktumu takkan lama lagi”.
Andai saja waktu bisa diulang, aku ingin mempercayainya walau saat itu aku
belum siap, sehingga aku takkan akan meninggalkanmu meski ada pekerjaan yang
mendesak.
Bu,
engkau pelita itu yang selalu membuat rumah menjadi tempat ternyaman, membuat
diri ini selalu ingin pulang padahal libur sekolahnya cuma beberapa hari. Ah,
ibu, engkau bahkan telah memberitahuku apa yang akan terjadi setelah
kepergianmu. Kini semua menjadi nyata. Berkat kata-katamu waktu itu, aku siap
menghadapi semuanya. Terima kasih Bu, atas semua cinta, nasihat, dan perjuangamu.
Semoga kelak, aku bisa sepertimu. Love you
Maafkan,
bila tulisan ini terkesan seperti curhatan, sungguh tak bermaksud. Saat ini pun
aku menulisnya dengan berurai air mata. Selamat hari ibu, untuk semua ibu yang
luar biasa.
Palembang,
23 Desember 2020
#WAGFLPSUMSELMENULIS
#Lampauibatasmu
#FLP #FLPSumsel
#HariIbu
