Oleh: Arisalyati
Setiap
orang memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri. Adakalanya kita
butuh ruang untuk mengungkapkan isi hati yang terpendam agar terluapkan dan tak
menjadi beban. Beberapa ada yang mengungkapkannya secara gamblang melalui
postingan di sosial media masing-masing. Ada yang mengungkapkan secara tersirat
bak hanya dirinya dan Tuhan yang mengerti isyarat.
Bagiku,
menulis adalah cara terbaik untuk mengenang seseorang pun melupakan. Dua hal
yang tentunya bertentangan namun bisa menyatu dalam tuisan. Bila aku ingin
mengenang seseorang aku akan menuangkan kisahnya dalam bentuk tulisan,
mengabadikan kisahnya sedemikian rupa agar kelak bisa dibaca dan tak
terlupakan. Anehnya, bila aku tak bisa melupakan seseorang aku pun
menuangkannya dalam tulisan hingga aku perlahan melupakan seusai tulisan itu
tertuang. Rasanya lega, bila semuanya sudah tertuangkan dalam tulisan dan beban
di dalam diri pun berkurang. Hal ini mungkin karena aku bukanlah tipe orang
yang suka menceritakan permasalahanku kepada orang lain. Sehingga apa-apa mesti
dituliskan.
Dulu,
sejak SMP aku suka sekali menuliskan kisahku dalam buku diary, mulai kisahku
sedari kecil sampai dengan saat itu. Rasanya begitu menyenangkan bila sudah
menuliskannya. Namun kini menulis tak segampang dulu, harus ada tujuan dan
manfaat akan apa yang dituliskan sebab apa-apa yang dituliskan akan diminta
pertanggungjawabannya di yaumil akhir nanti. Bila kita ingin dikenang dengan
baik, maka tulisan kita haruslah memberikan manfaat dan mencerahkan. Jangan
sampai nanti, tulisan kita justru menjadi tumpukan dosa bukan tumpukan pahala. Rasanya
sangatlah rugi bila kita susah-susah menulis tetapi justru menjadi pemberat
amalan keburukkan. Bukannya menambah pahala malah sebaliknya, untuk itulah aku
bergabung dengan FLP (Forum Lingkar
Pena) yang slogannya itu “Menulis untuk Mencerahkan” sehingga aku bisa belajar
cara menuis yang baik dan mencerahkan. Dalam WAG FLP Sumsel Menulis, para pembina
selalu mengingatkan kami untuk menulis hal-hal yang bermanfaat bukan tulisan
curhat apalagi vulgar yang saat ini sedang marak-maraknya terjadi. Aku yakin
bila tulisan kita baik maka kita akan dikenang dengan kebaikkan dan sebaiknya. Sekarang
semua ada di dalam diri kita, ingin dikenang dengan cara yang bagaimana.
Selamat menulis dariku yang masih
belajar menulis
Palembang, 31 Mei 2021
#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu
#menulisuntukmencerahkan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar