Oleh: Arisalyati
Bila
membahas mengenai keluarga, kebanyakan terbayang akan sosok wanita yang penuh kelembutan.
Sosok yang menyayangi tanpa pamrih, menerima tanpa tapi, memberi tanpa diminta,
motivator paling canggih dan pondasi utama keluarga. Bila tiada, rumah terasa
hampa bak raga kehilangan jiwanya. Walau kerap kali hadirnya ia membuat semua
siaga, siap sedia mengerjakan apa yang diminta. Ya ialah ibu, muara terciptanya
rumahku surgaku. Dibalik kelembutannya, ada ketegasan atas apa-apa yang boleh
dan tak boleh dilakukan. Dibalik senyuman ada doa-doa lirih yang selalu
dipanjatkan yang menjadi sebab tergapainya impian. Dibalik tangisan ada
kekuatan yang mampu mengorbankan semuanya demi keluarga. Maka sangat wajarlah
bila surga ada ditelapak kakinya.
Sosok
yang tak kalah penting dari ibu adalah Bapak, seseorang yang kerap kali berada
dibalik layar. Menanyakan keadaan anak-anaknya pada istri tercinta. Mengawasi
dalam diam, menjaga dari jauh, pejuang paling tangguh, dan tak pernah mengeluh.
Kerap kali ia mengerti akan keinginan buah hati walau tanpa cakap sebab ialah
pengamat paing cermat. Meskipun tak semua orang tua seperti itu, tapi itulah
yang aku rasakan untuk kedua orang terpenting dalam hidupku. Ya, aku sangat
bersyukur karena Allah takdirnya menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga
yang tak romantis namun peduli abis.
Teruntuk
kamu yang ditakdirkan dalam keluarga yang tak harmonis, kuharap nanti engkau
akan menjadi pondasi terciptanya keluarga-keluarga yang kokoh dalam ikatan yang
suci. Tanpa membawa dendam masa lalu. Yakinlah, setiap orang tua pasti
menyayangi anak-anaknya meski dengan cara yang berbeda. Kadang kala ada suatu
kodisi yang tak bisa dimengerti oleh akal namun bisa dirasa oleh hati. Jadi,
seperti apa pun kita bertumbuh semoga kelak kita bisa mencipta keluarga yang
utuh. Menjadi sosok yang mengerti tanpa bicara dan memberi tanpa diminta.
Hingga akan selalu ada surga dalam setiap rumah.
Palembang, 18 Agustus 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar